December 4, 2012

the missing present

dan kini inug menatap kosong pada halaman parkir yang pasrah di guyur air oleh sang langit. hari ini, 28-10-2014, inug masih duduk sasmbil menghembuskan asap jarum dari mulutnya. dia teringat kejadian dua tahun yang lalu saat dia masih mengenakan seragam putih-abu-abu. masa yang indah menurut orang lain tapi tidak menurut inug.

28-10-2012
"kamu gak pulang? mau aku anter?" tanya inug.
"gak usah mas. aku udah telpon minta jemput." jawab lia.
"yaudah aku disini nungguin kamu sampai pulang ya." yang di tanya cuma mengangguk.
"mas inug, ngerokok disini apa gak ketahuan?dari sana kelihatan guru lho." kata lia sambil ngerapat ke inug.
"gak mungkin ketahuan. guru-guru juga sudah pada pulang. kalaupun masih ada yang di sekolah, gak ada yang bakal nyampe pos satpam." jawab inug sambil ngerangkulin tangan meluk lia. mencoba memberi kehangatan ditengah hujan angin yang masih sangat lebat.
kalau saja ini pacarku, pasti sudah aku bawa pulang ku kenalkan pada orangtuaku.batin inug berkata lirih.

yap.mereka sudah menjalin hubungan tanpa ikatan selama hampir sebulan.tapi sayang hubungan itu nampaknya tidak akan berlanjut.karena keduanya sudah memiliki pacar yang sama sekali tahu hubungan ini. dibilang terlarang, bisa jadi. tapi, batin inug berkata lagi, kata orang sebelum janur kuning melengkung dan nisan belum tertancap, masih ada kemungkinan. optimis.
"mas inug kok senyum-senyum gitu sih?" tanya lia sambil memegang erat tangan inug yang sedang merangkulnya.

"enggak kok. mas inug cuma lagi mikir, kenapa waktu berjalan terlalu cepat? yang salah itu dewa khronos apa aku?"
"yang salah itu bukan dewa khronos karena dia menjalankan tugasnya dengan baik."
"berarti aku yang salah?" kata inug sambil menatap dalam mata lia yang, menurutnya, terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja.
"bukan juga. disini gak ada yang salah kok. mungkin ini memang jalannya. karena hidup selalu menemukan jalannya sendiri." kata lia sambil menyentuh lembut pipi inug. dingin.
"kamu belum makan?"
"uang sakuku ketinggalan. tadi pagi aku bangun kesiangan."
"kenapa gak bilang?"
inug langsung berlari menembus hujan untuk membelikan jajanan yang masih ada di depan sekolahnya. tidak lama dia sudah kembali.
"kenapa harus ujan-ujanan. nanti kalo mas inug sakit gimana?" kata lia sambil menerima jajan dari inug, "makasih."
"kalau aku gak nembus hujan, kamu yang bakalan sakit. lebih baik aku yang sakit daripada kamu."
"ah, gombal."

dan saat hujan mulai reda, inug mengantarkan lia pulang karena penjemputnya tidak kunjung datang.

28-10-2014

"mari,saya antar ke ruang istirahat bapak." kata seoarang suster sambil memegang pegangan kursi roda inug.

"sebentar, saya masih ingin menikmati hujan." dan suster tadi menurut dan meninggalkan inug.
tak lama setelah kepergian suster tadi, inug mendengar yang lamat-lamat. terdengar seperti puisi yang pernah ditulisnya.
dan sewaktu mencari sumber suaranya, terlihatlah sosok mungil yang sangat dia kenal: lia.
"darimana kamu tahu aku disini?" tanya inug mencoba bersikap biasa.
"dari mas catur dan ternyata aku sudah melewatkan seseorang yang selalu menungguku tanpa aku sadari."
"puisi itu aku buat karena aku sudah kehabisan akal untuk memberitahumu bahwa aku selalu berada disampingmu." jawab inug sambil menatap lembut hazel eyes yang dimiliki lia.
"dan baru dua jam yang lalu puisi itu aku baca." kata lia menahan tawa dan yang terbentuk malah seulas senyum lembutnya.inug langsung mengerutkan dahi. ternyata separah itukah?
"sudahlah jangan terlalu dipikirkan, sekarang pikirkan kapan kamu bisa menemaniku untuk jalan-jalan lagi seperti dulu?"
"As Soon As Possible, honey."
"honey?" kali ini lia yang mengerutkan dahinya.
"iya, kali ini aku gak mau kalah dari chronos lagi." kata inug sambil mengulas senyum.

No comments:

Post a Comment