"dan sekarang loe pikir gue gak mikir?" tanya adri setengah membentak.
"bukan gitu maksudnya, kamu bukannya gak mikir tapi..." kata-kata senocepat diserobot adri.
"tapi apa?loe mau bilang kalo gue telat mikir?"
hawa pertikaian sudah tercium. hampir semua yang dikantin sudah pergi semua.
"kalau kamu bilang gitu aku gak bisa membenarkan tapi juga tidak bisa menyalahkan kamu. wong, kamu juga gak bisa ngendaliin pikiran kamu waktu kamu lagi emosi, iya tho?" kata seno dengan logat medok khas jawa tengah.
sehari sebelumnya,
"tapi apa beneran gitu?dia tadi bilangnya mau pergi ke mall gara-gara aku lagi sibuk ngerjain tugas." kata adri di telpon.
hening sejenak
"masak?loe kalo ngomong yang bener dong, gue gak percaya nia jalan sambil gandengan tangan." adri langsung menutup teleponnya tanpa menunggu kata yang akan keluar dari lawan bicaranya.
sejenak dia duduk tercenung. mencoba menerawang ke angkasa. mencari tahu apa yang dilakukan nia sekarang.
"kalo loe bingung kenapa gak coba di sms?daripada ngelamun gak jelas kaya gitu, mending loe telpon atau samperin rumahnya." kata abangnya sambil berlalu.
ide bagus tuh kayanya,batin adri berkata. dia langsung mengambil hapenya dan seketika sms pun terkirim ke nomor yang sudah banyak memenuhi inbox-nya.
setengah jam kemudian belum ada balesan.dia langsung menelpon nia.
tut...tut..."halo, napa dri?" suara halus yang biasa didengarnya langsung menyapa.
"kamu dimana?" adri setengah berteriak karena suara bising terdengar hampir mengalahkan suara pacarnya itu.
"ini lagi dijalan mau pulang. tumben banget kamu telpon?"
"ya udah aku juga otw ke rumah kamu."
tut...tut...tut
tanpa babibu lagi adri langsung ke rumahnya nia yang cuma ditempuh lima belas menit.
dan adri datang tepat sebelum cowok yang mengantar nia pergi. adri langsung memasang wajah masam ketika dikenalkan dengan cowok bernama reno itu.
"yaudah aku pulang dulu udah malem gak enak sama tetangga." kata reno sambil melempar senyum ke nia.
baiknya gitu,deh.daripada loe kena bogeman dulu sebelum ngabarin orang tua loe. batin adri.
"kamu tadi kemana aja sama dia?" tanya adri.
"cuma jalan di mall sama makan udah itu aja kok." jawab nia enteng.
"bagus lah kamu sudah bisa mencari yang lain." jawab adri ketus.
"hah?apa kamu bilang?kamu belagak bijak apa gak mau mengakui?"
"nah itu tadi udah ada buktinya."
"tadi sore itu aku pamit mau jalan ke mall dan mami aku tanya jalan sama kamu? aku jawab aja kamu lagi sibuk sama buku yang mau kamu bikin. gak taunya mami nelpon reno, anak kenalannya mami aku, suruh nemenin aku." kata nia yang mulai tersulut, "kalo aku boleh milih, aku bakal milih jalan sama kamu ketimbang dia."
"kenapa kamu akhirnya mau?jangan mungkir dari fakta."
"reno tau-tau udah ada di depan rumah tanpa sepengetahuanku. kalo aku tahu aku bakal batalin jalan ke mall."
"kayanya gak segampang itu faktanya yang aku liat. dia suka sama kamu."
"oke, aku ngaku kalo dia suka sama aku tapi aku tetep milih kamu. dia masih kekanak-kanakan. jalan pikiran kita gak pernah nyambung beda kalo aku debat sama kamu."
"tapi apa orang tua kamu setuju kalo nanti semisal aku mau serius sama kamu?"
"aku yakin mereka setuju." jawab nia mencoba memberi keyakinan untuk adri buat terus nyoba. tapi adri bukan tipe cowok yang suka bermimpi.
"seyakin itu? i don't think so. don't you see how your parents look at me since we meet? they never give approval to me."
"i don't think so." nia masih ngeyel dengan pendapatnya.
"hey,lady, see the real! aku miskin dan orang tuamu mencari menantu yang bisa menjamin masa depan anaknya dan cucunya."
"itukan pendapat mereka.aku yang bakal melewati hidupku,bukan mereka. dan aku tahu mana yang baik untuk diriku dan mana yang akan membuatku bosan." kata nia sesaat sebelum papinya keluar dengan gusar.
"adri, sekarang kamu pulang dan jangan injakan kaki disini lagi. saya gak mau rumah saya dikotori oleh kakimu." kata papinya nia ketus.
"beri saya satu menit om. saya ingin bicara dengan nia," kata adri tak kalah ketus, "nia, aku sekarang lagi berusaha merajut kesuksesan menjadi penulis. dan mungkin ini akan butuh waktu untuk mengenakan kesuksesan. aku cuma pengen kamu tahu aku gak maksa kamu untuk ngertiin aku. ikuti apa kata orangtuamu because they often give the best way for their child." adri langsung beranjak pergi sebelum papinya nia kembali mengusirnya.
sebuah keputusan yang diambil dengan cepat dan menyisakan tangisan nia semalaman.
keesokan harinya
"tapi mau gimana lagi sen?orangtuanya udah gak ngasih restu, dan kamu tahu sendiri aku orangnya gak mau pacaran ngumpet-ngumpet." kata adri mulai melunak.
"hey,man. jangan sok idealis lah. hidup ini harus luwes. coba kamu tengok sekelilingmu, mahasiswa itu banyak yang berkoar-koar memerangi kkn, tapi bagaimana setelah mereka bekerja nanti?mereka akan memberi uang pelicin untuk melancarkan usaha mereka."
"itu beda sen. ini bukan masalah hidup, tapi masalah cinta."
"dan cinta itu ada didalam kehidupan setiap orang."
sepeninggal seno, adri masih memikirkan kata-kata seno. batinnya berperang,menuruti idealismenya atau membohongi dirinya sendiri.
No comments:
Post a Comment