February 8, 2013

diam itu berisik

kenapa harus berbicara kalau diam itu lebih ramai daripada tangisan bayi yang kelaparan? apakah tidak bisa membedakan diam yang berarti dengan yang tidak?
dimana sensivitas? haruskah seseorang meneriakan isi hatinya pada semua orang yang melihat?

haruskah seorang cowok berteriak keras-keras menggunakan 10 speaker masjid untuk mengatakan "aku menunggumu sejak lama kenapa kamu masih belum mengerti?" kepada seorang cewek. haruskah seorang cewek berteriak-teriak seperti penjual obat di tengah pasar hanya untuk mengatakan "kenapa kamu gak ngerti aku yang, di depanmu, selalu menunggumu?" kepada sahabatnya?

dimana perasaan? kejamnya realitaskah yang membunuhnya? kerasnya kehidupankah yang membebalkannya? bukankah untuk menjadi manusia utuh ada dua aspek yang membentuknya: hati dan pikiran, lalu kenapa hanya kepala yang dipakai? kemana perginya hati? tertinggal karena mencoba melawan arus? kenapa harus melakukan aksi kalau diam saja bisa melewan arus? memang ada tiga pilihan dalam hidup:
1. berhasil melawan arus dan menjadi sosok besar
2. terseret arus karena gagal melawan arus dan tak menjadi apapun
3. diam ditempat dan menuggu sosok penyokong pergerakan
 pilih yang mana?
ada sebuah petuah: lebih baik menjadi penjahat daripada tidak menjadi apa-apa, kenapa harus menjadi penjahat? diamlah, siapkan aksi dan tentukan saat yang tepat.

No comments:

Post a Comment